Bau Anyir Kematian…

Standar

“Wazh,, Wuzh,, Wazh,, Wuzh,,,” Semilir bayu semakin menderu, Mengeras, Meliuk-liukkan batang-batang pohon hijau..
Menjatuhkan daun-daun lapuk,,Sedikit-demi sedikit menghanyutkan bau lembab. Bau anyir. Bau mayat. Bau yang,,, Oh menusuk hidung hingga telinga. Memainkan perasaan hingga puncak kengerian.
Wuzh… Angin semakin menjadi. Bus yang kutumpangi semakin meliuk, ke kanan.ke Kiri. Mengikuti alur, Berguru pada Jalan sempit berkelok, berliku tajam, memeluk bukit yang melegenda dengan keangkerannya.
Siang di sini bagai sore menjelang petang di luar sana. Di luar jalur ini mungkin panas sedang melanda. Mungkin matahari bagai musuh penyengat. Lain diluar lain di sini, di jalur ini. Inilah Hutan legenda yang sempat kuceritakan pada Om Hudan.
Seorang penulis yang mengajakku terhuyung dalam kata. Berputar dalam dunia sunyi. Mabuk oleh kata.
Om Hudan yang karena berbincang dengannya membangkitkan hasrat untuk berceritera tentang sebuah sejarah dari daerah asal.
Dengan cerita melegenda tentang siluman, Haus darah, haus nanah.
Semerbak bau anyir. Penuh Hawa kematian. Terlalu sejuk,
Pengap.
Dan MENCEKAM….
Semerbak bau anyir.
Penuh Hawa kematian.
Terlalu sejuk,
Tanpa kehidupan.

Ini adalah perjalanan pulangku menuju kampung halaman, menuju Ibu yang begitu ku sayang. Menjemput pacar yang menjadi candu dikala Rindu. Menjemput keluarga yang selalu manis di kulum senyumku.
Ku edarkan pandang keluar jendela. Hanya pepohonan dan jalan kecil berliku. Tak ada manusia. Tak ada rumah. Hanya hutan, dan gemerisik dedaunan kering terinjak ban Bus yang ku tumpangi.

“Wuuuuuuuush…”,,Bayu kembali datang mencuri bau anyir. Menghilang. Tapi kemudian datang lagi, justru dengan bau yang lebih menyengat.
Aku bersama Bus yang ketumpangi, tak kunjung menemui titik akhir dari perjalanan panjang penuh sangsi, akankah tetap hidup atau mati?.
Kengerian yang tumbuh subur di benakku.

Aku duduk di kursi nomer tiga belas dari depan, tepat di balik jendela, sehingga angin dan bau anyir menyelusup cepat ke nadi. Hingga berdiri seluruh bulu kuduk. Semangin tercekam.
Aku bahkan begitu takut menoleh ke samping, kepada penumpang lain yang duduk di sebelahku,
Aku begitu takut akan melihat perubahan disana.
Aku takut gadis cantik di sampingku akan berubah menjadi siluman bergaun putih, wajah putih, sangat putih dan pucat pasi.
Aku terlalu takut membayangkan seluruh penumpang di sulap menjadi Robot, Mumi,, Mayat hidup. Mayat tanpa perasaan. Mayat Pembunuh!!!.

“Iiiiiiiikh..!!!” Ku pukul-pukul kepala seraya menggeleng keras -keras, Kekanan. Ke kiri. Mengikuti ayunan pohon oleh angin untuk mengusir fikiran aneh yang teronggok di bulatnya kepalaku. Ku beranikan menoleh kepada tubuh di sebelahku duduk.
Ah,, dia masih tetap gadis cantik dengan rona merah di pipinya, semakin jelas rahang oleh sapuan Blush On warna Mate. Aku kembali tenang.
Gadis di sebelahku sungguh cantik rupanya, tak seperti sangkaanku tentang wajah putih pasi. Dia sangat cantik dengan make up penuh, jika di lihat dari dandanannya yang seperti itu mungkin dia adalah seorang SPG Mall. Mata bulatnya semakin cantik saja dengan paduan eye shadow mengkilap kuning. Bibirnya yang delima, gaya duduknya begitu proporsional dengan tubuh semampainya. Begitu anggun, begitu feminim. Sedikit iri terbersit di relung nurani, Tak ku pungkiri aku terpikat oleh kecantikannya, tapi bukan berarti aku seorang lesbi kan???
Aku wanita normal, yang mempunyai rasa takut yang luar biasa terhadap keadaan, ini hanya pengobat hati. Untuk mengalihkan diri dari persangkaan terhadap berubahnya gadis jelita ini menjadi siluman putih pucat pasi, Mayat Pembunuh!!!.
Kembali ku dengungkan do’a- doa, dzikir dzikir, puji-pujian kepada Sang penguat Hati,, Kulantunkan indah meski hanya dalam nurani.
Kuberanikan diri lagi menoleh kepada gadis di sebelahku, mencoba mengajaknya berbicara untuk mengusir penat. Tapi…..Oooooooh!!!.
Bulu kudukku tak sempat berdiri, mataku tak sempat membelalak, Gadis itu..Gadis itu….” Gggg… Ggaa…dis itu..” Aku meracau sendiri,, berbicara entah pada siapa.
” Oh,,, Ya Alloh ,, bismillah,, bismillah, Allahu laa ilaaha illa huwal hayyul qayyum” Aku membaca sekenanya, berdzikir sebisanya, mencerocot sendiri, memaki sendiri, mengapa tadi mesti mengikuti alur bus yang ini.
Gadis itu,,, Gadis disampingku,, Dia hanya putih, putih tanpa blush On warna mate, mata terbelalak tanpa tuju, kosong. Duduk terpaku bagai patung, bagai mummy,, Lalu dengan kecepatan luarbiasa menoleh ke arahku, kali ini dengan pandangan tajam, menusuk hati yang penuh sangka, membuatku gagap…gagap..Bisu tapi tak bisu.. Gagap.

“Ah,,, Uh,,, Oh,, Tuhan,, Help miiiiiiiiii” Ingin sekali berteriak lancar,, tapi lagi-lagi ” “Oh,,oh,,uh,,uh,,a,a,a, Tu,,tu,,tu,,, han Help miiiiiii,” Kembali aku mencerocos. Gadis putih tanpa Warna itu semakin mendekatkan wajahnya padaku,, mendekat,,, semakin mendekat dengan tangan terjulur ke leherku..

jenari lentik berkuku tajam, merah, panjang dan siap mencengkeram leher tak berdosaku…

Aku mencoba mencari pertolongan, dari bangku di belakangku, atau setidaknya kondektit bis nya,, Tapi….

Tak ada lelaki atau wanita normal sepertiku, wajah berwarna, dan sedikit keringat minyak membasahi pipi,,

Semuanya putih,,, Pasi,,, Berkuku panjang, mata kosong, dan semuanya dengan gerakan cepat menoleh padaku yang sedang berusaha berteriak. mereka semua menjadi ZOMBIE!!! Mayat PEMBUNUH!!! Mayat hidup doyan daging normalku.

” Eww,,www…Woo..ooooooy , Ap..ap..ap..apppa Salah kuuuuuuuuuuuuu??!!!!” Aku berteriak Sebisaku, sekuat tenagaku,, tapi Gadis itu tak bergeming, tak peduli..

Tetap menjulurkan tangannya.
Menusuk ku dengan mata nanar, merah darah, memandang tajam, Terus..Teruuuus, semakin dekat..Semakin dekat.

Aku tetap meracau..
Memaki Tuhan..
Memaki takdir…
Memaki lalu berdoa…

Bau anyir semakin terasa.. bau darah,, Amis,, Bau kematian….

Anjasmoro 20 April 2009


Vee ambil dari fesbukna Vee

5 responses »

  1. cukup bagus cuma kok prolog gitu sih
    ehmmmmmmmm sekedar masukan nih tolong dong bikin ermis yang lebih seram dan gambar2 hantu gitu maf jangan marah thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s