Detik perpisahan sementaraku dengan PUw

Standar

Hari ini, hari senin tanggal 23 maret 2009… Puw berangkat tugas keluar.

Lha aku???
Yupz, terpaksa harus terpisah selama dua bulan ke depan.
Dia sedang percobaan di Pekalongan, ,, semoga berhasil, jadi dia bisa permanen di sana.
Pekalongan akan sangat dekat dengan daerah tempat tinggalku di BAtang,, jadi sepulang aku dari Semarang, aku akan bisa bertatap muka lagi dengannya.
Aku udah bisa merelakannya sebenarnya, semenjak dia mencium keningku dan berteriak keras ” I luv U” di teras kost ku.
Semenjak dia menarik tanganku, dan menciumkan tangannya di bibirku.

Tapi sayang nya itu tiga hari yang lalu, hari yang dia pikir, adalah hari terakhir kita ketemu untuk dua bulan ke depan.
Itu hari kamis kemaren.
Jum’at, aku libur kerja, jadi mungkin di benaknya, dia tak akan bertemu denganku hari itu.
Sabtu,minggu,, aku masuk kerja sore,, dia masuk pagi,, jelas udah gag ketemu lagi.
Senin? Lhoh senin kan dia udah berangkat… YUpz, otomatis aku gag bisa lagi bertemu dengannya semenjak hari kamis,, Tapi itu hanya itung-itungan yang SEHARUSNYA, bukan yang realisasinya.
Realisasinya?
Hari jum’at, saat seharusnya aku libur, aku maen ke rumahnya, nyulik adeknya( si Ayu’), ngembali’in ayu’ sorenya,, ketemu deh ma Puw…
Tapi dia tak seperti yang ku harapkan, dia berbeda, seolah-olah sesungguhnya dia sudah tak ingin bertemu denganku mulai kemaren itu.
Sabtu, pagi-pagi sekali,dia sudah menunjukkan wajah tak menyenangkan.
Bahkan dia solah2 tak menginginkan aku berada di dekatnya.
Aku menangis dalam hati.
Meninggalkannya dan berjanji.
“Aku berjanji, Aku masih punya harga diri!!!”
” Aku berjanji, Aku masih bisa mengandalkan diriku!!”
“Aku berjanji, Aku bisa hidup tanpa Puw disisiku!!”

Yah,, Sabtu aku benar-benar menjalankan misiku, misi untuk menepati janjiku.
AKu tak perlu sms puw, aku juga tak butuh jemputannya.
Aku bisa melakukan itu sendiri.
Aku memang Wonder Women.

“MAaaaas…mas erik” Aku berjalan terseok-seok setelah sholat. Kebetulan di tempat kerjaku, kalau mau sholat ya musti biN kudu naek tangga, trus kalu dah selesei musti biN kudu turun tangga.
Tiba-tiba maagh ku kumat, atau entah penyakit apa lagi yang menghampiriku.
Yang jelas perutku kram, sakiiiiiiiiit banget, sampe kedua kaki ku sulit ku gerakkan.
Aku hanya duduk mengaduh dan mengeluh ke MAs erik, rekan kerjaku. berjam-jam aku merengek.
“Dek kamu pulang aja ya’
‘Mau pulang gimana maz? berdiri aja aku gag bisa”, air mataku tak henti meleleh, ternyata aku bukan Wonder women.
Aku terlalu cengeng, hanya sakit begini aja udah menangis, gimana kalau sakit yang lebih parah dari ini.

“Aku telfonin mas puw ya dek”, mas erik menawarkan jasanya.
ingin sekali aku menolak, karena teringat dengan janji hati.
Tapi aku sungguh tak bisa ngapa-ngapain, kertas yang ku pegang jatuh aja aku tak bisa bergerak untuk hanya sekedar mengambil kertasku.
MAs erik yang membantuku mengambili kertas yang terserak itu.
Aku menangis, sakiiiiiiiit banget jadi orang yang lemah itu ternyata.

Aku tak suka lemah begini.
Aku tak suka jika harus menjilat ludahku hanya karena lemah.
Aku tak sukaaaaaaaaaaa!!!.
Tapi mau gimana lagi?
Dengan terpaksa, ku iyakan juga tawaran mas erik untuk menelepon puw.
Yang berarti aku bukan hanya menjilat ludahku, merepotkan orang lain, daaaan mengusik kerjaan orang lain. Ini belum waktunya pulang kerja.
Selang beberapa menit puw datang.
Seharusnya dia datang lebih lama lagi, mungkin kali ini di ngebut.
Jadi merasa bersalah.
Dia menuntunku menuju motornya, menjagaku agar tak terjatuh, menyetir motor dengan sangat pelan karena begitu banyak jenggolan di jalan yang membuatku selalu menjerit kesakitan.
Sesampai di kost dia minta ijin kepada Bu Jito penjaga kost untuk mengantarku ke kamar dan ikut menjagaku bersama dengan Bu jito.
Puw memijitiku, mengoleskan minyak ke tengkukku, ke perutku, ke kakiku, tanganku.
Memegangi botol berisi air panas di perutku, menyuapiku dengan teh panas yang di bikinkan Bu Jito, dan dia benar-benar terlihat lihai menjagaku, duduk di sampingku.
Bu Jito meminta Puw untuk memeriksakan aku ke Dokter. Puw pun mengiyakan, meski aku ngeyel nggak mau.
” Nggak mau!!! kayak orang sakit aja ke Dokter!!” Aku berteriak kekanak-kanakan, seperti balita takut di suntik.
“Trus kalu bukan sakit apa namanya?Pengen sembuh apa sakit??!” Puw melotot.
“Kamu tuh emang kayaknya lebih seneng kalau sakit gini og neng, kamu senin ujian sayang, pokoknya harus berobat!!” Dia mengambil keputusan sendiri.
Setelah Sholat maghrib dia dengan susah payah membujukku ke Dokter, dari cara terharlus sampai dia harus  marah dan hendak meninggalkanku karena aku tetep kekeuh pada pendirianku.
“SAKKAREPMU NENG!!!” Dia membentakku.
Aku hanya menunduk, ku pegang ujung bajunya.. ” Yaudah deh.. tapi kamu jangan pergi” Aku merajuk.
Dia menangguk, dan menuntunku ke motornya.

Sesampainya di Klinik, aku masih terus saja mengoceh karena takut dan malu, aku tak pernah menginjakkan kakiku ke klinik ini, di tambah lagi aku lupa bawa uang.
“Mau nya gimana? kamu mau tak tinggal disini? Aku mau pulang aja,, capek ngurusin kamu neng!!”
“Cep”,, aku langsung diam, hening.
Sesungguhnya di otakku masih terus berpikir,, Aku sedang di ambang kemiskinan, bahkan untuk makan aja aku sudah menyiapkan mie instan untuk seminggu kedepan, mana mampu aku membayar obat plus periksa?
Maku tau, Puw tak mungkin membiarkanku membayar sendiri, tapi aku pasti akan punya beban. Apalagi, saat ini, aku tau Puw pun sedang mengalami krisis keuangan, gajinya bulan ini tak sebanding dengan yang di harapkannya.
Aku tau itu.
Makanya aku berpikir keras bagaimana caranya menggagalkan periksa ini, tapi nyatanya aku nggak bisa melihatnya terus uring-uringan.

===========
“Mbak okta, ini obat dari kami “, mbak kasirnya memberiku obat dan kemudian masih ada lagi kertas yang di ulurkannya, “Dan ini, untuk menebus obat di apotek ya mbak,”
Aku melongo, di tambah mendengar biaya yang harus ku keluarkan.
Tapi Puw hanya diam dan mengeluarkan lembaran uang dari dompetnya. Aku memandanginya.
Dia tak tau perasaanku, dia tak tau betapa akupun tau dia sedang bermasalah dengan ekonominya.
Dia hanya ingin aku segera sembuh, tentu aku senang dengan perhatiannya ini, tapi aku tak bisa menerima ini sesungguhnya.
” Sekarang tinggal ke Apotek,” Puw berujar.
Aku masih mematung di tempatku, meski Puw telah berjalan menuju motornya.
” Ayo neng ah!!”
“Puw, gag usah ke apotek ya, ini udah cukup kok.” AKu menggumam.
“Yakin?”
“hem’eh” mengangguk.

Sekembalinya dari Dokter, Bu Jito udah menyambutku dan menyuruhku segera meminum obatku.
Tapi aku hanya mengiyakan tanpa melakukannya.
Sekarang giliran PUw yang misuh-misuh menyuruhku minum obat.
“Ndang di minum obate.”
“Tapi aku gag bisa”,, aku menunduk.
” Kamu tuh dikit-dikit gag bisa, dikit-dikit gag bisa! bisanya apa??!!!, tinggal di minum aja!”
“Tapi gag da pisang”, Aku melirihkan volume suaraku.
Aku memang tak biasa minum obat tanpa pisang.
Tapi mungkin Puw sudah terlanjur marah, akhirnya dia benar-benar meninggalkanku sendirian di teras, dia menyetir motornya dengan suara keras.
Aku tau dia marah padaku.
mungkin akan lama aku tak bertemu dengannya.
Dua bulan bukan waktu yang singkat untuk aku dan dia.
Setiap hari kita bisa bertemu, sementara sekarang??

: Senin, 23 maret 2009 di selingi sebuah lagu,,,
“Aku akan pergi tuk sementara, kupastikan kembali pada dirimu tapi kau jangan nakal, aku pasti kembali”

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s