Aku sahabat yang mencintaimu Puw

Standar

Juli 2008

1_442580459l2

“Sebenernya dah aku relakan, tapi ini menyakitkan, dendam itu tetap ada,,,!” katanya ber api-api bersama dengan bendungan air di sudut matanya meski tak sempat menetes.


Aku bisa merasakan kepedihannya, dari caranya bercerita, aku sangat nyaman dengannya, sangat bisa merasakan apa yang di rasakannnya, dan aku merasa seolah-olah aku adalah dia, sehingga aku bisa merasakan kedalaman dendamnya, kepada seorang gadis di sana, beserta sahabat yang dia rasa telah menghianati batin, raga, dan kepercayaannya.
Tapi di lain sisi, rasa cemburu itu meluap bebas, menjalar ke seluruh aliran darahku, aku begitu cemburu terhadap gadis itu, gadis yang telah membuat lelaki di sampingku ini begitu tergantung padanya, begitu mencintainya, gadis yang bodoh! kenapa meninggalkan lelaki ini.
Lelaki tampan yang sebenarnya aku mulai tertarik padanya, aku mulai mengaguminya, mulai ingin lebih dekat dengannya, lebih dekat di hatinya,, tak apa jika sekarang inipun kami bersahabat, tak apa dia selalu bercerita tentang gadis itu, tak apa ia tak tau kalau rasa cemburu yang membuncah ini tak dapat tertahan. Tak apa demi sebuah perasaan yang ingin menjaganya.
Puw,,,yah siapa lagi yang ingin ku ceritakan? lelaki itu adalah puw, lelaki yang kelak akan menjadi kekasihku.

=========================

Tadi Puw mengajakku kesini, ke masjid agung. Katanya mau mampir sholat, trus dia mengajakku ke menara, katanya bakalan bagus, Semarang kelihatan semua katanya.
Aku manut ajah ikut ke menara.
Di sini kami berfoto-foto ria, sumpah kereeeeeen banget, kami bercanda ke sana kemari, ku dengar banyolannya yang aneh-aneh, lucu, menyenangkan, nggak garing, aku menikmati ini.
Lalu kami mulai menceritakan jati diri masing-masing, aku bercerita tentang kehidupanku, keluargaku, dan cara hidup pas-pasan selama tinggal di semarang sehingga memaksaku bekerja. Dia mendengarkan itu semua dengan penghayatan, aku merasa di perhatikannya, merasa di dengarkannya, lagi-lagi ingin ku katakan,” aku menikmati ini.”
Lalu dia mulai menceritakan sederet wanita yang menyertainya, yang hanya sedikit menurutku, dan tak ada yang menarik dari yang di ceritakannya, karena dia pun tak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun sebenarnya, hanya jalan asal jalan saja.
Aku percaya itu, tapi ketika dia menyebutkan nama seseorang yang dekat dengannya akhir-akhir ini hingga sekarang, bahkan mereka satu tempat kerja, aku merasa ada yang berbeda dari caranya bicara, mungkin wanita ini teramat spesial baginya.
Puw sangat menyanjungnya, “Rere namanya, dia sangat cantik, sudah sukses pula, tapi bukan itu yang membuatku ingin memilikinya, tapi karena aku sudah mulai mencintainya, melebihi dia mencintaiku selama ini, aku tak pernah berharap banyak darinya, tapi dia selalu memberikan harapan itu, dia bilang dia ingin bersamaku”.
” Ouh,” jawabku singkat, ingin sekali ku sembunyikan perasaanku, tapi rasanya aku tak rela lelaki ini begitu menyanjung Rere.
“Tapi semuanya berakhir, ”
“Kenapa?”
“seorang sahabat, yang selama ini ku topang, ku bantu, ku anggap kakak, ku anggap sahabat sejati, dia menusukku dari belakang.”
Dendam itu semakin kentara di mata sayu Puw, Ku elus pundaknya, meski tadinya aku ragu, masa’ aku seberani ini mengelus pundak lelaki yang ku anggap megah ini? bahkan memegangnya saja aku tak berani, yang aku bisa biasanya hanyalah memandanginya, menenangkan lewat matanya, hanya itu, tapi kali ini? mungkin terlalu berani tapi tak apalah, toh aku hanya ingin menenangkannya, menenangkan hatinya yang telah di kacaukan oleh gadis bernama Rere itu.
“Sebenarnya aku tau rere masih sayang sama aku, tapi entah apa yang mendorongnya hingga lebih memilih Tamam!!”
” Sabar puw,” aku menggumam, meski aku tau, mungkin ini tak akan berarti buatnya, tak akan membuatnya tenang. Tapi ini yang ku bisa, menenangkannya.
“Tamam sudah ku anggap kakakku, dia pula yang mengenalkanku pada rere, yang memberiku semangat untuk mendekatinya, tapi dia pula yang menghancurkan semuanya, menghancurkan impianku, sampai sekarang, aku tak hendak menyapanya, tak akan memaafkannya,”
Aku merasakan betapa cintanya puw kepada Rere, betapa dendamnya dia kepada sahabat yang menghianatinya, Tamam. Dan aku merasa, tak kan ada celah untukku.
Aku kembali terpuruk dalam kesedihannya.
Aku merasuk kesana, ke dalam ceriteranya. Tapi dia? sepertinya ah…
Aku mundur saja, aku hanya akan menjadi sahabatnya.
Orang yang akan selalu ada di sampingnya, membantu melupakan dendamnya.
Membantunya bangkit.
Ku usir jauh-jauh rasa tertarikku padanya.
Sudah ku bangun semua ini, ku bangun ketegaranku, tapi itu kembali runtuh ketika dia mengajakku berdiri meninggalkan menara, Puw merangkul pundakku.
Ku pandangi matanya, polahnya, tapi dia tetap tak menyadari itu, tetap di rangkulnya pundakku.
“seurrrrrrrr” Udara dingin menerpaku, menerpa ketegaranku, menerpa niatku untuk hanya menjadi sahabat untuk Puw, perasaan tertarik itu kembali datang.

15 responses »

  1. q harap kam bisa mmbimbing q untuk lebih bisa membuat karya2 q lebih elegan ato berharga….. n q harap km bersedia berproses bersama q… q seneng nulis cerpen N puisi….

    salam kenal dari aq….

    o> Vee <o
    Vee bole liat dunk karya2 mu mas

  2. o> Untuk semuwa… <o
    Y ampuuuun, mungkin ini sedih, kecewa, hancur, cemburu yg membuncah,, tp ini kehidupan vee, ya maw gmn lagi?ya ini yg bisa vee ceritain, tp lama-lama kebahagiaan itu datang kok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s