Azura Ganjen, Aku jadi ikutan ganjen

Standar

” Mmm, cakep banget, putih banget, baek banget, pinter banget, dan perfect banget?” Aku menggumam sendiri, bertanya sendiri, dan ingin pula kujawab sendiri.

“Hmmm, seandainya benar apa yang di bilang Zura,,,Ah, tapi masa’ gadis sekecil itu tau orang ganteng segala?? Hallaaah, paling dia cuma lebay…”

Kembali aku menggumam, masih dalam posisi terlentang di atas kasur yang tak empuk, dan hanya cukup untuk aku sendiri, iyuh,, hanya aku sendiri dengan ukuran 1 x 1,5 meter saja, dah gitu Bapak Kost nya juga comelnya pake banget.com.

Nyaman juga telentang, sambil membayangkan Puw, pria yang masih terus mengisi hatiku hingga sekarang, dengan senyuman termanisnya, dan logat bencisnya, meski hanya akting, but,,, i love him,,,. Dan aku percaya, diapun begitu. Tapi bayanganku tentang sesosok Puw dengan aura cintanya itu tiba-tiba tertimpa dengan bayangan lain, sebuah sosok yang belum pernah ku kenal sebelumnya, sosok yang belum pernah bertemu sebelumnya, dan dia very perfect, mungkin Puw hanya se “ kuku jentiknya”.

“Ikh,, nih apaan si , syah..syah..syyyaaahhhh!!!” Aku berusaha mengusir bayangan sempurna itu dari hadapanku, tapi dia tetep bandel menempel erat di benakku,,

“Puuuuuw, help meee, jangan lemah, jangan mau tertimpa dia!!!” Aku menjerit sendiri,,

“Upz, ,” Ku bekap mulutku, ikh ternyata aku lebih comel dari Si penjaga kostku, masak tereak-tereak sendiri persis orang gila,, ugh,, Tuhaaaaan, sadarkan aku dari mimpi burukku.

Atau ini sebenarnya mimpi baik ya? kan dia cakep banget,dan perfect banget…

Nggak boleh, aku nggak boleh menjadi pemain cinta, seorang Puw sudah teramat cukup untukku, bahkan untuk seorang Puw, aku bisa menulis novel setebal 258 halaman, hanya berbicara tentang dia. Manusia yang selama ini ku anggap sempurma untukku, sebelum sosok lain yang tercipta oleh ocehan Zura terekam erat di benakku.

” AAaaaaRgh, emang nih si Zura!!!!” Aku berteriak sebal, dan tak pelak lagi sebuah bantal yang tergenggam di tangan, terbang melayang entah mengenai siapa.

==============================

” Azura sayang, emang daftar apaan si? Buat referensi apaan si?”

Setelah sampai di sebuah Gubuk yang tak layak untuk ku katakan sebagai Rumah, yang di tinggali gadis kecilku ini, aku kembali mendesak untuk meminta jawaban Zura.

” Ummmm, daftar orang baik yang pernah nolongin Zura, dan bakalan dapat Balasan dari Zura kelak kalau Zura kaya…”, Zura beranjak dari dipan,lalu mengambil sebuah buku kecil, yang kemudian di sodorkannya padaku.

“Ibu, Kak Dendy,Kepala Sekolah, Bu Kentris, Kak Vee..” Aku membaca satu persatu tulisan yang tertulis rapi itu.

” Kak Dendy tuh kakaknya Zura Ya?, kok Zura nggak pernah cerita kalau punya kakak?” Aku menelusuri wajah mungil di hadapanku. Tapi dia hanya menyodorkan gelengan.

” Bukan kak”.

” Lantas?”

” Zura kan waktu itu pengen tau banget maen di warnet itu kayak  gimana? Kata Pak kepala sekolah, di warnet itu Zura bisa belajar, kadang nggak ada di buku juga ada di situ.”

” ou? lantas apa hubungannya dengan Kak Dendy?”, Kutanyai begitu Zura malah melotot, seolah tak rela jeda yang sengaja di buatnya untuk menghirup nafas malah ku sela dengan pertanyaan.

” Jadi waktu itu Zura nggak ngerti apa-apa, nyelonong aja gitu masuk warnet, karena pakaian Zura yang abis ngamen, makanya Operatornya malahan kayak nggk suka gitu, tapi Kak Dandy yang ngebelain Zura kak, mana Zura di bayarin, di ajarin maenan komputer pula, Zura seneng banget deh kak sama kak Dandy,” Pipi Zura bersemu merah, ikh ni anak kecil-kecil kegenitan banget sih…

” Kak Dandy itu cakep banget, putih banget, pinter banget, baik banget, pokoknya perfect banget deh kak.” Mata Zura menerawang, mungkin sedang membayangkan sang pujaan hati, ya kak Dandy nya itu. Ku dorong kepalanya,

” Kamu tuh ya, kecil-kecil aja ngerti cowok.”

” Yeeeeee, abis nya dia cakep banget kak, ouh so sweeeeet,” Zura tambah ganjen, tapi malah membuatku semakin penasaran saja terhadap sosok yang di ceritakan Zura.

” Ouya kak, Kak Dendy juga sering loh mendatangi tempat nongkrong Zura, truz ngajakin ngenet, katanya Zura tuh pinter,, hihihi,,,,”

” Zura ganjeeeeeeeeeeeeeeeeen!” Aku sebal banget sama ni anak kecil. Ingin sekali ku jitak dia.

” Eiiiiitz,,, jangan putus asa dulu kak, kakak tetep boleh kok kenalan sama Kak Dandy, tapi awas ya jangan keganjenan sama dia, soalnya Kak Dandy punya Zura!”

” Iyyeeeeee,,,enak aja kalau ngomong, Kak Vee juga nggak pengen ketemu sama si Dandy itu, Kak Vee juga udah punya Mas Puw, dan Kak Vee pastikan, Mas Puw jauh lebih Perfect ketimbang Kak Dandy mu ituh!”

“Hihihi, ngambeg?”

” Nggak!” Aku menggeleng.

” ngambeg? KAkvee ngambeg…kak vee ngambeg…”

Zura malah mengolok-olokku dengan irama paling menyebalkan.

” Kak vee ngambeg… kak Vee ngambeg…”.

” Shut UP@!!!!!!!!!!” Ku bekap mulut jelek anak gila ini.

“@#$%^^&*^%^%$%#%^&^ “.

============================

Halaman —–>12 3 4

11 responses »

  1. hobi sekali sih buat cerpen. bisa kasih tahu caranya nggak. saya dah buat di blog dengan judul kesadaran di rintik hujan. tolong buka, terus kasih komentar ya!!!

  2. BeuUhH . . .
    Ku aCuNgiN 7 jempoL dEh (pnjeM m tmen 5 jmpoL ageE)..
    KueReNn cAngadD..
    Dpt inspirasi drmN??
    Coz qu jg sk bwt cerpen,,cma za msiH mALu tUk d’pubLikasiin,,tkuT jelek..
    Pliz seNt m0tivaTioN to me…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s