Peristiwa di bus

Standar

Untuk Ayah tercinta
Aku ingin bernyanyi
Walau air mata dipipiku
Ayah dengarkanlah
Aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi

Alunan merdu di depanku menambah suasana bising bus yang ku tumpangi, namun suara nyaring itu tak semakin membuat penat, justru semakin membuat telinga siapapun yang berada di bus ini bergoyang, saking merdu dan syahdunya.
Suaranya mengalunkan kerinduan mendalam kepada sang Ayah yang sekarang tak lagi di sampingnya, aku yang merasa bernasib sama juga merasakan kepedihan itu.

Kepedihan ketika tak ada seorang Ayah yang begitu ku kasihi, seorang Ayah yang menjadi penutan, seorang Ayah yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga, tapi semua tugasnya kini beralih kepada ibuku, karena Ayah tiada.
Aku merasakan kegalauan yang di rasakan sang penyanyi.
Meski bibirnya begitu mungil, tapi suara nyaring, merdu , mendayu, dan menggambarkan kerinduan itu tak kalah indah di banding dengan artis-artis yang penyanyi cilik itu.
Aku mengaguminya, dan baru kali ini aku mendengar nyanyian menggema indah karena penghayatan tinggi, dan ini terdengar di bus kota yang kutumpangi. Suara merdu dari pengamen cilik.
Tak rugi aku naek bus, meski tadinya sedikit sewot karena PUw tak bisa menjemputku. Tak apa aku sedikit terhibur.
” Ternyata suara Zura tak bisa di remehkan, dia pun begitu lihai memainkan senar-senar di tangannya,” Biarkan saja, aku akan berpura-pura tak mengenalinya sampai dia menyapaku,,
Tapi tiba-tiba aku merasa ada yang bergerak di bokongku, memang pelan, tapi aku merasakannya, sepertinya ada yang melolos dompetku. Aku segera menoleh dan dengan sigap tanganku mencekal tangan di belakangku.
” ngapaen Loooe?!!!” Aku berteriak lantang.
Semua penumpang menoleh ke arahku. Aku yang sebenarnya juga takut ini tetep aja nggak bisa menahan emosi. Emang nih emosi kudu di jaga, kalau seperti ini bisa-bisa aku terbunuh di dalam bus,,, waduuuuuuuuuuuw,,, help meeee…..
Mana ni preman yang mau mencopet dompetku matanya segede bakso,,, Bisa mati berdiri nih…
Tapi mata segede bakso itupun bisa juga mengecil jadi segede bola bekel hanya karena tangannya di cekal oleh gadis kecil pengamen yang tidak lain adalah Zura.
“Bang,, jangan di apa-apain, sampe abang nyakitin dia awas loh!!” Ancaman garangnya malah di ketawain si Abang tukang mata bakso.
” hwakakakka,,,nggak usah sok suci Ra’ , toh dia nggak akan miskin kalau tak mintain uang di dompetnya duank!!”
” Zura bilang jangan apa-apain kak Vee!!!” Zura masih menentang, Ah rupanya dia masih ingat aku, meski 4 hari aku tak bertemu lagi dengannya sejak perjalanan ke Johar kemaren lusa.
” Sok kenal lu Ra’ ” Si abang malah menghentikan Bus dan turun dengan langkah gontai di iringi Zura, dan akupun tak mau kalah mengikuti akan sampai mana perbincangan mereka di luar sana, Ku ikuti langkah mereka turun dari bus di ikuti pandangan ganjil dari penumpang lain, mungkin aku aneh mengikuti pencopet sangar yang hendak mengambil dompetku, bukan dengan dendam tapi dengan penasaran.
” Kalau nanti abang masih suka nyopet, awas aja!!! Zura nggak mau lagi ngajarin Santi belajar!!” lagi-lagi anak kecil itu mengancam.
Si abang yang dari tadi acuh tak acuh dengan ocehan Zura, kali ini kepancing juga.
” Eitz,,, jangan ngambeg gitu dong Ra’, kamu boleh ngapain aja tapi jangan berhenti ngajarin Santi Ra’, Abang nggak punya biaya untuk menyekolahkan Santi, lah terus kalau bukan kamu yang ngajarin pelajaran seperti di sekolahanmu, yang ngajarin Santi siapa?? Abang tuh nggak mau adek-adek abang jadi goblog dan tukang copet kayak abang, bantuin napa Ra’??” Si abang memasang tampang memelas.
” Makanya abang nggak usah nyopet lagi, apalagi tadi itu kak Vee, yang kemaren beliin Zura buku, yang Zura dan Santi pelajari juga,, Abang bukannya berterimakasih malahan Nyopet dia!!!”
” Dia malaikat yang kamu ceritakan kemaren?” Si Abang tampak terkejut, lalu menoleh ke arahku, semakin terlonjak lagi dia, Zura yang menoleh ke arahku juga jadi ikutan terlonjak. Ikh dasar mereka berdua tak peka, masa’ tak ikutin dari tadi kok ya nggak nyadar.
” Si Abang lalu berjalan ke arahku dengan jalan tergesa-gesa, lalu menjabat tanganku..
” Aduh neng, maapin abang yah…Makasih neng kemaren dah ngasih buku yang bisa adek abang pelajari,,,” Katanya sambil mencium-cium tanganku yang ku tarik kuat tapi tetap tak bisa. Aku tak bisa menolak untuk mendapat ciuman tangan itu.
Waduuuuuw akhirnya aku berjaya lagi.
Ternyata meski sepereman apapun, manusia itu masih selalu punya hati untuk orang – orang yang di kasihinya, seperti Bang Gembung yang bermata sebulat Bakso itu, meski sangar, pencopet, preman, tapi ia tetap ingin adiknya belajar, meski tak secara formal, dan tak secara formal pula, Zura telah menjadi guru untuk Santi.
Ah,, Zura,,, Zura,,, kamu hebat nak…
“Udah bang, nggak papa, nggak usah di pikirin, emang abang selain nyopet, pekerjaan tetapnya apa?”
” Tukang parkir, sesekali juga abang ngamen bareng Zura, bareng Santi,”
” Eh abang tinggal dulu ya, ada order tuh,,, ada bus,,, abang mu ngamen, terusin sama Zura ajah,,,” Lalu Bang Gembung berlari menghampiri bus.
Sementara aku menghampiri Zura, dan lagi-lagi ku elus rambutnya.
” Kamu hebat non,,,” Merah lagi pipinya.
“Seneng banget di panggil Non,,, kenapa kakak seneng banget manggil Zura non?”
” soalnya Zura perempuan, yawdah kalau nggak mau ntar kakak panggil Maz, mau???!”
Zura menggeleng keras ” Emooooh, Zura moh di panggil Maz, kalau om aja gimana kak?”
“hihihi”, Dasar Zura Gemblung, malah tawar-manawar.
” Kak,,, tau nggak kak?”
” Apah?”
“Kakak udah tak masukin ke dalam daftar punya Zura.”
” Daftar apa?” Aku tersenyum.
” Pokoknya buat referensi, entar kalau Zura kaya,”
” Referensi apaan?” Aku masih tak mengerti maksut anak ini, ” Sok tau kamu non,, emang kamu tau referensi itu apaan, anak SD juga’?”
” Yeeeee,, kakak ngecee*, bukan anak SD!! tapi anak  SD kelas 6, kakak kurang panjang tuh,,,”
” Apa bedanya? Toh sama-sama anak SD ini.” Aku ngeyel.
” Kakak salah!!!, Zura dah kelas enam, Zura udah bisa baca, toh meski Zura nggak bisa beli buku, Zura masih bisa baca-baca di internet!!” Dia mulai ngambeg, merasa tak di anggap olehku.
Ckckckc, anak ini bisa internet? mau maen internet dimana dia? kapan? kan kesehariannya ngamen, lagi pula dia masih kelas enam, sudah se “mikir” itukah dia, betapa belajarpun bisa lewat internet?.
Tapi kalau aku bilang, itu adalah ide jenius, kalau emang nggak punya uang untuk beli buku, ya baca-baca lewat internet pun jadilah.
” Eh tapi kakak di ceritain dunk dari mana Zura tau internet?”
” Ada deeeeeeeeeh,,,” Zura berlari mendahuluiku, sambil ketawa ngakak menyimpan rahasia,,, Hihihi lucu nih anak, ngegemesin….
Ku kejar dia, dan ku ikuti, entah akan kemana dia, akan berhenti dimana dia?

=========================

* ngece = menghina, meledek, …susah di jelasin pake bahasa indonesia pokok mah…

=========================

Halaman —–>12 3 4

20 responses »

  1. Halo vee, pa kabar? Salam nggo zura ya, eh opo zura laire sasi zuro to? Senengane nnton zorro msti, yo ra po2, asal ojo film zaru wong msh kcil, he2..
    o> Vee <o
    hiyyah si mamas inih.,,
    biso wae, iyo ntar tak salamke wat Zura,, apa sih yang enggak buat mas grubik???

  2. sesama orang yang suka nulis cerpen (apa bener y aku suka nulis cerpen, soale baru beberapa karya yang kuhasilkan), q cuma bisa mengagumui karya mu yang apik tenan “dibanding dengan tulisasnku”. oleh karena itu q ingin sering seputar tentang cerpen ato kau ajari aku aja gimana caranya nulis cerpen sebagus karyamu?? mau kan???

  3. o> To Muktir Rahman Syaf <o
    Ah kamu ini loh maz,,, makasih atas pujian yang membangun ini,iyuh, mari kita sama-sama belajar….yang penting semua yang akan maz tulis harus dari hati,,,itu satu point penting.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s