Gadis kecil itu, Azura,,,

Standar

“Tungguuuuuu!” Aku berteriak sekenaku,dan memegang sekenaku,,,dan mengenai bajunya, ku tarik dia,,,,

Wajah polosnya terlihat begitu ketakutan, memerah , kemudian air matanya tak tertahan,,,.

Melihatnya, wajah sangarku yang tadinya bahkan berasap dari telinga kini terasa lebih sejuk, hatiku bergetar. Aku yang pada dasarnya emang cengeng inipun malah ikutan menitikkan bulir-bulir yang tak biasanya ku umbar di hadapan umum,,, apalagi ini di hadapan anak kecil.

“Kak,, maaf,,,” Dia merengek.

“Ikut aku!!” Aku membentaknya setelah menguasai kelabilan sikapku,kali ini aku hanya menggertak, bukan bermaksud memarahinya, hanya ingin memberikan surprize berbonus pelajaran untuknya.

“Kak,,, maafkan Zura,,,” Dia masih merengek hendak melepaskan bajunya dari cengkeramanku,, tapi rupanya cengkeraman jari mungilku inipun bisa menahannya, menahan rontaannya.

“Ku bilang Ikut Aku!!!, jangan berontak, atau kulaporkan polisi?!” Aku mengernyit sinis, dan merebut dompetku yang tadi sempat berpindah alih ke tangan anak kecil yang ternyata bernama Zura itu.

Akhirnya dengan wajah menunduk, dia mau juga mengikutiku,,” Yess, aku memang berkuasa!!!, hihihi” Hatiku tertawa ngikik serupa setan merayakan kemenangan.

Ku seret dia ke KFC di jalan pemuda, masih dengan baju compang-campingnya, dan tentu saja kini di lengkapi dengan wajah bengongnya pula.

“Kamu, nama kamu siapa?!!” Aku membentak seolah belum mengenalnya.

“Azura Kak,,,” Masih dengan wajah bengongnya dia menggigil terlihat takut dengan wajah yang kubuat sangar ini.

” Nama yang bagus, sangat bagus bahkan,,untuk gadis kecil yang polos ini” Aku membatin.

“Azura laper?” Ku bungkukkan badanku untuk bisa menyamai tingginya, dan wajah sejajar dengannya, kali ini ku lembutkan suaraku,penuh kasih ku elus rambut kusamnya. Kali ini ada binar cerah di matanya, dia mulai berani menatapku, lalu mengangguk pasti, menandakan bahwa dia LAPAR.

Ku gandeng tangannya memasuki Ruangan ber baur warna merah itu.

” Zura maem apa?”

Azura menggeleng,,” Zura nggak tau kak, pokoknya yang enak ya kak, boleh nggak?”

ugh, wajah polosnya itu makin lucu aja, ternyata kalau di lihat-lihat, bocah tembem ini manis banget.

“Boleh donk sayang, yang enak yah?, serahkan pada kakak, biar kakak yang milihin..” Ku busungkan dada, dan ku tepuk sombong.

Ku pilihkan colonel ‘steak,dan super panas jumbo untuknya,, dan dua gelas pepsi.

Aku sudah kenyang, jadi aku hanya mmesan pepsi,untuk ku sedot dan sesekali memandangi Azura  melahap seluruh makanan yang ada. Sambil terus bercerita, dan sedikit-sedikit memuji makanan yang sedang di lahapnya. Ternyata dia masih duduk di bangku sekolah dasar, sekarang kelas 6 dan sebentar lagi akan memasuki masa-masa SLTP.

” Lantas kenapa tadi kamu berani-beraninya ngambil dompet kakak?” Mendengar pertanyaanku yang langsung mengena pada topik ini, Zura spontan tersedak,, segera ku ambilkan galas pepsi di hadapannya, dan ku minumkan.ku elus punggungnya masih penuh dengan ketenangan.

“Maafkan Zura kak”,  Wajahnya yang tadi sudah mulai ceria itu kembalimemelas.

” Iya, kakak dah maafin Zura,, kakak cuma mau tanya, kok berani-beraninya Zura ambil Dompet kakak? Benta lagi kan Zura lulus, apa nggak takut nanti kakak laporin polisi, terus Zura nggak bisa SMP?!.”

“Uang ngamen Zura nggak cukup buat beli LKS kak,, padahal kalau mau dapet nilai bagus ya harus beli itu, wajib kak.” Matanya memerah, lalu menangis.

Aku masih sok tenang.

“Orang tua Zura kemana?.”

“Ayah Zura udah nggak ada kak, Ibu cuma jualan koran di lampu merah, hasilnya nggak cukup untuk kami berempat.” Zura meghirup nafas sebentar lalu melanjutkan. ” Zura punya dua adek kak, keluarga kami semuanya empat, sementara uang hasil koran mana cukup untuk membiayai sekolah Zura kak?”.

Aku masih mencoba tenang, meski sebenarnya aku ingin sekali mengikuti Zura meneteskan air mata, tapi kalau Aku menangis, lantas Zura mau pinjam pundak siapa?

“Kedua adik Zura sekolah?” Zura menggeleng.

“Adek Zura masih 4 bulan, masih butuh susu kak”.

“Dua-duanya?” Aku mengernyit.

“Kembar”. Zura menjawab singkat.

” Dulu saat ayah masih ada, meski hanya pengamen, ayah bisa membiayai kami, tapi tepat di hari adik-adik Zura lahir, malah Ayah harus diambil oleh Alloh, Waktu Ayah melompat dari bis setelah selesai ngamen, ayah terserempet motor, hikz,,hikz,,,” Zura mulai tergugu, rupanya ia mulai tak kuasa menahan kerasnya tempaan hidup yang menimpanya. Kedua tangannya di gunakan untuk menutupi sekuruh wajahnya, lalu menangis sepuasnya.

Ku raih kepalanya dan kupeluk dia,,mungkin saat itu, semua mata tertuju pada kami berdua. Tepatnya kepada Zura yang berpakaian compang-camping yang sedang menangis, dan kepadaku yang berdandan ayu jelita( maklum mau kondangan )yang sedang memeluk Zura erat.

………………………………..

lanjuuuuuut ——>( belum ada dink, hehe :D)

Halaman —–>12 3 4

2 responses »

  1. Ohhhh… dulu kamu suka nyopet ya… wikikikik….. enggak ding salah baca ya…..
    Hu uh… nih… hari yang baik lho buat menyayangi anak yatim…
    Good story….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s