Kisahku berakhir pada sebuah makanan bernama “BAKSO”

Standar

“Sakiiiiiiiiit” Aku meringis dan menjerit tanpa suara di balik bantal, sambil ku pegang dadaku…

Terisak kehabisan napas, ingusku memenuhi bantal bercampur dengan air mata.

Suara sesenggukanku, ku tutupi dengan suara radio di Handphone ku, yang ku loudspeaker. Aku rasa, aku sudah aman dengan semua ini, aku rasa tak kan ada yang tau bahwa ada seonggok nyawa dengan tangis tertahan, dan rasa sakit yang mendera sedang tersimpan di kamar 3X 3 ini.

Sakit sekali rasanya hatiku,, sakiiiiiiiiiit sekali. Tapi tak mungkin aku berteriak sekeras-kerasnya seperti di pantai, ini di kamar, dan ini kamar kost,, Aku manusia tegar yang tak boleh menangis di depan teman-teman apalagi hanya masalah sepele, yupZ, masalah sepele yang MENYAKITKAN!!!, cukup karena Ryan saja aku menangis,, tak boleh lagi sekarang.

Tapi apalah daya? Aku hanya wanita,,,. Sebagian wanita yang sesungguhnya sangat lemah, tak punya daya, Tapi tetap sombong, angkuh agar tak terlihat betapa lemahnya seorang aku. Seorang Vee. Seorang perempuan. Seorang yang sesungguhnya lemah.

Taukah apa yang menyebabkanku menangis?

Tak ada yang salah dan pantas dipersalahkan dalam hal ini kecuali aku.

Aku yang memulai semuanya, aku yang mengeruhkan suasana. Berawal dari masalah sepele, yang kemudian menyadarkan aku betapa aku tak pernah berbuat sesuatu untuk menyenangkan orang lain.

“Aku laper puw,” Aku merengek,, dengan bentuk wajah manjaku, aku memang tak pernah segan mengucapkan kata itu kepada siapapun, kepada rekan sekerjapun aku tak pernah segan, mungkin itulah yang membedakan aku dengan wanita feminim, yang menjaga segala sikap dan tingkahnya. Aku tak bisa seperti mereka-mereka yang ayu-ayu itu.

“hehe,,aku juga laper,,” Tak kalah manjanya dengan merenges memamerkan gigi puw berucap.

“Yuk,, trus mau maem dulu, atow pulang ke kostmu dulu neng?”

“Mam dulu, aku lapeeeeeeeeeer banget”

“Ukey deh,, let’s go!!” Puw bersemangat menyalakan mesin motornya,, hari ini dia menjemputku di tempat kerja.

Tapi di tengah jalan, nggak tau kenapa moodku langsung anjlog, drop, down,, Argh!!!, padahal, tadi selama hampir 2 jam aku menunggu puw, aku masih terus membayangkan pipi cubby nya yang semakin cubby saja setelah rambutnya di potong, yang betapa menggemaskannya dia, dan aku yakin tak akan puas untuk terus nguyek-nguyek rambut barunya, yang baru di pamerkannya tadi pagi itu.

Tapi nyatanya?

hanya karena puw nyeletuk gini, “makan di Bu ndut yaaa.” Tanpa rasa berdosa setelah kemarin juga memaksakan untuk makan di Bu Ndut, kemarin si nggak memaksa, tapi memperlihatkan wajah memelas, yang benar-benar memelas.

Tapi sekarang? aku benar-benar tak ingin makan di sana!!

Taukah? dari kemarin aku ngidam bakso!!! dan aku kemarin udah ngalah buat ikut makan di Bu Ndut,, Hikz,,,, (Tuh kan? masalahnya sepele??? ).

“Yawdah,,yawdah, kita makan dimana?” Dia berusaha menenangkanku, tapi sayang, moodku dah terlanjur anjlok, down, dan drop itu tadi.

Dasar cowok!!! Kenapa ya kalau bareng cowok tuh segala yang kita inginkan mesti di omongain berkali-kali? harus di ulang jika ingin dia tau? Padahal kan aku udah ngomong dari kemarin kalau aku pengen Baksooooo!!!!!, ( Hikz…mode ON).

Iya sih aku nyadar kalau cowok itu emang bebal, nggak bisa baca perasaan, nggak bisa mendengar suara hati, mereka cuma bisa mendengar suara kasar. Dasar!!. (Tapi para cowok, tenang aja, kan itu emang wajar, ceweknya aja nie yang gi bad mood).

Sesampainya di kost pun aku masih uring-uringan. Sempat ku usir puw, tapi lagi-lagi kesadaranku pulih, lalu aku menariknya lagi, dan berucap “maav”, dan sedikit ciuman di keningnya sudah membuatnya kembali duduk.

“Aku lapeeeer,” ku ulang lagi rengekanku.

“yauwdah yuk mam, meh maem dimana?” Ih pertanyaannya malah bikin muak lagi, kn aku dari kemaren dah bilang pengen Baksooooooooo, kenapa di tanya lagi? malah menjatohkan moodku lagi.

“nggak!!, nggak jadi!!, yawdah sana pulang aja, dah malem, aku mau kuliah!!!”

“Yawdah kamu kuliah aja, aku pulang dulu ya”, masih dengan sabar puw menjawabi setiap cerocotan tak bermakna dari mulutku.

Tapi jawaban yang ini, meski kelihatannya adem, ayem, tentrem, tapi malah bikin ati panaaaas banget,

Ih, aku kan pengen di perhatiin, lhah ini? malah dya mau pulang, dan rasa laperku? kok nggak do perhatiin??

hikz,, lagi-lagi hikz,,,

“Yawdah sana pulang!! aku mau bobok aja, nggak mau kuliah!!! sanaaaaaa!~!!!” Lalu ku tinggal puw ke kamar, biarin aja dia sampe malam jadi obat nyamuk di ruang tamu.

“Al,, Rin,, Vian,,!!! Aku pulang dulu ya,,,” LHoh kok malah pamitan ma temen-temenku?? Hikz,,, aku beneran di tinggalin, Dasar nggak punya perasaan!!!

Wong tak tinggal masuk kamar tuh biar sendirian, kok malah pulang!!

(INTRUPSI!!: “Sebenernya yg nggak punya perasaan tuh sapa ya??!!!”)

“Waduw?? tapi kok kasian??” Ku buka pintu kamar, lalu aku berlari mengejarnya keluar, dan tanpa alas kaki aku langsung mbonceng di jok motornya.

“Ikuuuuuuut,” lagi-lagi dengan tampang manja dan sedikit pamer gigi merenges, aku merajuk.

“kemana? kamu kuliah aja oneng,,,” puw menegaskan.

“nggak ah, mau ikut kamu aja.” Lalu sedikit cerita membuat kami nyambung lagi.

“motornya di balikin lagi aja yuk, masuk lagi aja”, Aku mengajaknya, diapun mengiyakan.

Setelah motornya di mundurkan lagi, aku duduk di teras, dan kembali ngobrol dengan puw. Kulihat wajahnya yang mulai terlihat sayu kelelahan.

“Kamu capek ya?”

“YUpz,, makanya, sekarang kamu kuliah ya?, aku tak pulang dulu…”

“Jadi kamu beneran capek ya?”

“Yawdah wes, kamu pulang, nanti aku tak jalan kaki wae kuliahnya”

“Tuh kan,, kamu tuh mesti gitu,,,”

“Susah kalau ngomong ma kamu tuh emang, Dasar oneng!!”

“Masalah kecil tuh bakalan jadi besar kalau ngomong sama kamu, ngomong ini sampainya mana,,, Yaudah aku yang ngalah terus,,”

Ceramah singkat itu, JUJUR AJA!!, itu menohok ulu hatiku, hingga sesak rasanya.

Ceramah singkat itu, membekap mulutku,, membuatku tak sanggup berkata apapun, SUNGGUH!!, sakit rasanya jika mau bicara.

Sakit bukan karena dia, tapi sakit karena aku tersadar, bahwa dia telah memberi kaca BESAR yang di peruntukkan untukku berkaca. Untukku menyadari betapa dia terlalu berarti untuk sekedar ku ajak makan, karena laper.

Untuk berkaca, bahwa ternyata dia terlalu isimewa untuk sekedar ku acuhkan.

Bahwa dia terlalu berharga untuk ku usir dari hidupku, sementara aku????

Aku cuma manusia yang tak membawa dampak apapun untuknya kecuali membuatnya semakin repot saja.

Waktu yang seharusnya di peruntukkan untuk keluarga kesayangannya itupun harus habis untukku.

Tenaga yang seharusnya hanya untuk dia bekerjapun harus habis hanya untuk mengantar jemputku. Belum lagi jika aku mulai sakit-sakitan, dia selalu rela mengantarkanku ke Dokter yang jaraknya tidak dekat, memerlukan waktu yang lama menuju kesana. Belum lagi jika hujan, medan untuk menuju kesana semakin ngeri saja. Biasanya kita kesana setelah aku dan dia pulang kerja, jadi paling tidak jam 5 sore kami baru keluar dari rumah. Dan itu membuat jalan yang kami lalui _ yang gelap di kelilingi hutan, kadang berganti sawah, kadang juga dusun yang masih jarang penduduknya itu_ akan semakin gelap dan menyeramkan saja rasanya.

Uang yang seharusnya di simpan untuk masa depannya juga harus terkuras habis saat bersamaku.

Perasaannya juga pasti selalu tertekan oleh naik turunnya moodku,, ouh,, kasihan sekali dia..

Dia selalu memasang tampang senyumnya, yang meski kadang sangat menyebalkan,, apalagi saat-saat genting seperti sekarang, saat emosiku benar-benar labil, dia masih dengan sabar menghadpiku dengan tampang senyum tanpa dosanya itu, itu semakin memuakkan, sejujurnya.

Tapi itulah dia dengan segala kelebihanhnya yang di luar nalar, menurutku.

Dan aku??

dengan segala kekuranganku yang juga di luar nalar, menurutku.

Dan karena kesadaranku yang mulai mencuat itu, membuatku menangis, tapi terlalu susah mengeluarkan air mata tepat di depannya ( Gengsi dooooonk!!! : MOde ON).

Jadi ya cuma tampang memelas dalam keterdiaman aja yang tampak dari wajahku (lagi-lagi menurutku!!), karena ternyata setelah memasang tamp-ang memelasku, Puw malah nyeletuk menyakitkan, tapi sedikit membuat hatiku tertawa (INGAT!!! hanya hatiku yang tertawa, lagi-lagi gengsi dooooonk!!).

“Kamu ngantuk ya neng??” (Wew??)

Ugh, ternyata tampangku malah terlihat seperti ngantuk ya?? menyeballkaaaaaaaan!!!

“Udah sana pulang!!” Aku kembali mengeluarkan jurus merajuk sekaligus mengusir itu.

Lalu, menunduk lagi.

“Neng, pake jaketku yuk,, aku mau ngomong penting ma kamu”,, puw memakaikan jaketnya pada tubuhku..

Lalu menarik tanganku untuk masuk rumah, sekedar menitipkan helm dan pamitan dengan teman yang lain.

Lalu menarikku lagi untuk membonceng di motor kesayangannya itu, menyalakan mesinnya, lalu mengajakku melaju mengikuti angin.

Yang mengagetkanku, ditengah jalan dia dengan suara besar seolah memberi kejutan langsung berteriak ,

” AKU TAU!!”

Aku yang tadinya terus-menerus menundukkan kepala segera mengangkat kepalaku, bukan dengan sengaja, tapi karena kaget aja..

“kamu laper, terus pengen BAksoooo!!! Iya kan??”

Hikz,, ketauan,,,,

Tapi kan udah telat,, Sekarang, meskipun aku terlalu laper, dan terus terang dalam otakku yang terukir cuma gambar-gambar bakso yang menggugah selera makanku di tambah aku terlalu lapar, Tapi kan telat. Terlambat.

(ugh,,, kan gengsiiiii!!!)

“Kita pulang aja puw” Aku menggumam pelan.

“Nggak ah, kamu kan laper neng,, Kita ke Bakso yang mana? sini apa depan sana?”

“Kita pulang aja,,,”

“Yang sana aja ya sayang,,,” Puw mengarahkan motornya ke Tempat yang di tuju.

Motor berhenti tepat di warung bakso. Puw turun dari motor, dan berusaha menggandengku turun dari motor pula. Tapi aku tetap bergeming. Diam.

“Kita pulang aja..” Aku masih menggumam, tapi nadanya ku pertegas.

“Yauwdah,” Kali ini dia nurut aja…

Tapi, jauuuuh dilubuk hatiku, aku merasa sangat berdosa padanya, sungguh.

Aku sudah menyadari betapa aku begitu jahat padanya selama ini, tapi kenapa aku ulang lagi?? itu yang membuatku merasa semakin terpuruk, aku merasa semakin tak berharga sebagai seorang pacar. Aku merasa semakin tak pantas untuk manusia sesempurna dia, sesabar dia, seistimewa dia, aku tak ingin kehilangannya, tapi aku juga tak akan tega membiarkannya terus bersama denganku, membiarkannya terus tertekan oleh sikapku…

Tak akan ku biarkan itu.

“Berhenti di counter yah,,aku mau beli pulsa” Aku masih berbicara lirih.

Setelah aku mendapat pulsa yang ku beli, masih dengan posisi membonceng sepeda motor yang di kendarai pangeranku, aku menulis sms, yang kutujukan padanya, untuk ku kirim nanti ketika dia menyalakan mesin untuk meninggalkan kostku.

Aku lupa sms nya, tapi yang jelas intinya, aku minta maaf atas segalanya, dan tak akan pernah merepotkannya lagi mulai saat ini, bahkan ku tulis pengakuan semua kekuranganku. Air mataku tak tertahan lagi, menuliskan itu.

Alhasih,, aku menangis sampe kost, meski aku berusaha mengusapnya, puw tetap saja melihat airmataku.

Ugh!!! memalukan.

Dia pamit pulang, dan segera ku kirim sms ku, sampai ada tiga sms yang ku kirim, dan ternyata, ketiganya “menunggu“,

OMG,,, Aku baru inget, handphonenya kan lagi kehabisan bahan bakar, butuh di charge..

Waduuuuw,,,,

Tapi tak apa, yang terpenting aku sudah mengirimkan apa yang seharusnya ku katakan tadi.

Aku menutup pintu kost dan masuk ke kamar, lalu menangis terisak, sesenggukan di balik bantal yang akhirnya penuh dengan ingus dan air mataku…

Mungkin setelah ini aku tak akan pernah lagi bertemu dengan pangeranku…

Setelah aku memutuskan untuk tak lagi mengganggunya, setelah sebuah jenis makanan yang bernama bakso itu membuatku kalap dan memulai pertengkaranku dengan pangeran tanpa kuda putih yang selalu ku elukan itu.

untuk terakhir kalinya (meski aku berharap, semoga tak benar-benar berakhir, aku masih ingin bersamanya,Sesungguhnya), aku ingin mengatakan sesuatu kepada sang pangeran tanpa pegasusnya itu…

“I luv u puw,,,,”

3 responses »

  1. ha..ha..ha..

    penyesalan selalu saja setelah kejadian,maka berusahalah untuk mengendalikan diri…menahan emosi dalam setiap situasi,tapi peristiwa dan semua kejadian yang membuat kita akan menjadi dewasa.

    salam kenal…mampir ketempatku ya!šŸ˜€

    o> Vee
    Begitulah,,,,
    hehe, tapi kan kisahku juga dah kembali bersama semangkuk bakso mbak,,,

  2. waduh ini cerita nyata bernuansa cerpen yah?
    jadi bingung komennya..hehe
    salamAN kenalAN aja deh!

    o> Vee
    salamAN kenalAN jugah ea bung kertarajasa,,(weleh sok kenal, yowes yg penting mah nick na ituh).
    iyuh nih kisah nyata, kalau nuansa cerpennya mah gag da,, hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s