Perkara itu… ( part II )

Standar

Tak sepantasnya aku menghitung berapa besar pengorbananku terhadap seseorang.

Tak sepantasnya,,,

Aku hanya di beri pilihan untuk ikhlas, itu yang di ajarkan oleh Ayah dan ibuku. Hanya ikhlas!!. Tak lebih. Tak kurang.

Tapi menjalankan ajaran yang selalu ditekankan oleh orang tuaku itu sungguh sangat berat. Mungkin karena pada dasarnya aku memang pendendam.” Aku PENDENDAM!!!” , jadi jangan sekalipun kamu berbuat salah padaku. Karena maafku akan terlalu sulit untuk kalian dapatkan. Dan aku akan mengungkit segala pengorbanan yang sebelumnya tulus ku lakukan. Setiap kali aku berkorban sesuatu, sesuatu itu pasti tulus dan ikhlas saat aku melakukannya. Tetapi ketika Suatu saat kamu berbuat tak baik, maka semua keikhlasan itu akan lenyap begitu saja. Aku akan segera mengungkit semuanya.

Itu aku…

Dan Ryan telah menohok jantungku, meski sakarang entah dimana dia. Dan sesungguhnya aku adalah manusia yang cepat melupakan rasa sakit. Rasa sakitku sudah tak seperih dulu, bahkan jika aku di suruh menceritakan secara detail kejahatan yang dilakukan Ryan kepadaku, jujur aku akan merasa sulit. Aku sudah banyak melupakan detailnya. Aku hanya ingat dia pernah jahat padaku. Seandainyapun aku ingat, aku tak akan terlalu mendalami ceritaku, karena aku tak lagi merasakan perih saat menceritakannya padamu.

Hanya saja ketika beberapa waktu silam nama Very idham Heryansyah mulai mencuat dengan kepribadian psikopatnya, aku mulai ingat kembali pada “PSIKOPAT GILA” itu. Ryan. iya dia adalah “PSIKOPAT GILAAA!!!”. Aku membencinya.

Dan sekarang aku mulai mengingat betapa kejinya dia.

Dengan tubuh ceking di penuhi tato di tangannya itu.

Apa semua orang yang bernama Ryan itu memang jahat ya??.

Dia mengubah hidupku. Bahkan mengubah bentuk tubuhku. Merubah segalanya. Dan segalanya berubah…

Jika saja Aku mau membandingkan Fotoku sebelum dan setelah mengenal manusia bernama Ryan itu, Aku tentu akan merasakan kepedihan, meski ada sedikit rasa syukur, akhirnya aku tak perlu lagi bersusah susah diet, karena badan tambunku segera lenyap berganti tulang belulang.

Mata indah yang aku kagumi dan kurawat tiap sebelum tidur itupun mulai di penuhi dangan lingakaran hitam yang menyeramkan. Mulai terlihat menjorok kedalam seperti anak-anak penderita kurang gizi. “Kasihan sekali” hikz,,. Habisnya siapa lagi yang kan mengasihiku jika bukan diriku sendiri. Bahkan keluargaku pun tak ada yang tahu masalah yang membelengguku ini. Aku mulai jarang pulang ke “kampung halaman”. Bukan karena tak rindu ibu. Tentu saja bukan. Aku sering mengurung diri hanya untuk memanggil nama ibu dengan air mata tak tertahan, dan suara isak yang pilu. Aku tak berani pulang dalam keadaan seperti ini. Tak boleh pulang.

Terakhir aku mendapat telepon dari kakakku, kalau tensi darah ibuku mencapai 200, tangisku tak dapat ku bendung, tak bisa ku cegah. Aku bingung, aku ingin pulang dan merawat ibu seperti biasanya. Memasak makanan yang boleh di makannya, mengingatkan minum obat, dan menumbuk daun seledri untuk di peras dan diambil airnya lalu di minumkan ke ibu. Atau jika lambung ibuku masih kuat, aku akan memarut “jipang”, sejenis labu untuk di ambil airnya dan di minumkan ibuku.

Tapi itu hanya impian belaka, yang bisa ku lakukan hanyalah menelepon ibu dan mengingatkannya untuk minum obat. Hanya itu. Lalu berdo’a untuk kesembuhan ibuku.

“Mam,, kata mas An tensi mami naik? nina dah bilang ma maz an,, ntar mas an bakal nganter mamah periksa ke Pak Ibrahim.”

“Lha nina sehat??” Ibu membuatku bingung dengan pertanyaanya. Sempat-sempatnya ibuku menanyakan kesehatanku, sementara kesehatannya sendiri sedang tak baik.

“Mah, yang penting mamah sehat ajah,, dah bikin nina sehat.” Aku berusaha mengalihkan pikiran ibuku, meski aku tau nurani seorang ibu tak kan berbohong, nurani seorang ibu terlalu kuat, dan mungkin itulah yang membuat tensi darah ibuku naik drastis. Mungkin saja dia merasakan siksaan batinku karena seorang Ryan. Ibu bahkan sering menanyakan soal cowok yang pernah main ke Rumah beberapa waktu lalu. Dan aku tau yang di maksud adalah Ryan.

Ibuku selalu bertanya sinis tentang Ryan, dan semua pertanyaannya selalu memojokkanku. Membuatku susah mengelak untuk membuka aibnya. Ibuku merasa ada yang janggal tentang dia. Tentang Ryan.

“Nduk, kamu kuwi cah wedok, ra’ pantes ngetokke duwit kanggo wong lanang, ra’ wajar jenenge”.

(“Nduk,kamu itu perempuan, tak pantas mengeluarkan uang untuk laki-laki, tak wajar namanya”.) Ibuku menegurku secara halus, meski kasar merasuk ke nadiku.

Dari mana ibu tau semua itu? entahlah. Yang aku lakukan apalagi?? jelas mengelak!.

” Mboten kok mah,tenang mawon”

(” Nggak kok mah, tenang aja”)

Ibu seolah tau kalau aku gugup, dan Dia lagi-lagi bertindak sebagai ibu yang bijaksana. Ibu yang selalu membuatku merindukannya, karena sikap lembutnya.

“Yasudah,, Ibu percaya sama nina”

Aku lega mendengarnya, meski aku tau di benak ibu masih di penuhi dengan tanda tanya. Tanda tanya yang sangat BESAR!!!.

###################

“Dok..dok…dok!!!” pintu kamarku di gedok dari luar. Aku diam…

“Mbak uk!!” Al memanggilku.

Ku buka pintu sedikit dan melongokkan kepala keluar.

‘Mbak uk, tuh si Ian di depan, gimana ni??” Al seolah takut Aku bakalan kenapa-napa.

“Yowez, makasih yo Al” ku lontarkan senyumku pada adik kostku itu. Lalu segera keluar Rumah dan menemui Tamu tak di undang itu.

“Apa?” Aku memulai percakapan bahkan sebelum mukaku terlihat olehnya.

“Ko ngomongnya gitu dek?” Senyum seringai menyebalkan itu terpampang didepan mataku. tapi maaf saja,, tak sudi aku melihatnya.

” Langsung aja deh, nggak usah basa-basi! ada apa??!!!”

Aku sudah tak tahan dengan bau badannya yang jika di akumulasikan mungkin seperti bau 25 ekor kambing , dan bau mulutnya itu, membuatku harus bolak-balik ke belakang untuk muntah saking tak kuatnya.

“Dari mana? kok bolak-balik aja dari tadi nggak bawa’in papah minum?”

Papah??? ikh najizzz!!!!

“Eneg ajah perutnya, pengin muntah!!!” Aku menjawab sekenanya.

“mau minum? mau minum ajah kok ndadak dateng ke kost ku, emangnya di sana nggak ada air minum apa??!!!”

“Kurang ajar ya??!!!” Ian menyahut.

“Hmm??” Aku mengendikkan alis sebelah kananku lalu meninggalkan ian dan temannya di luar sana, aku sengaja berlama-lama untuk menghirup udara segar yang tak ku dapatkan di depan pintu rumah kostku.

Setelah puas, aku keluar dengan membawa dua gelas air putih untuk ian dan temannya.

“Jadi selain mau minta minum, mau apa kalian kesini??”

“Besok papah memutuskan ke Jakarta” Ian memulai pembicaraan.

WeKz!!! papah-papah,,,emang nya pincang sampe harus di papah?di tuntun??? menjijikan!!!!.

Tapi okay lah, akhirnya pergi juga, mu ke Jakarta?? kenapa nggak dari dulu-dulu ajah? kenapa mesti berlama-lama mengganggu ketenanganku???!!! SiaL!!!! Psikopat Gilaaaaaa!!!!, ugh!!! hatiku hilang kontrol.

“Dek,,” Aku membelalakkan mataku, dak-dek, dak-dek,, emangnya kapal???, lama-lama tambah eneg juga ni perut.

“Apah?” Aku menjawab sekenanya.

“Ke Jakarta kan Butuh biaya,,,” Waduuuuuuw mulai deh, ni buntut-buntutnya duwit, ugh BBD deh,,,

“Tolong dong, kamu pikir aku gudang duwit? ni aku juga lum bayar kuliah. Tapi kalau kamu mang mau ke Jakarta ya syukur alhamdulillah, aku nggak da pengganggu lagi” , aku memaki dalam batin.

**************

………..

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s