Perkara itu…

Standar

Dia,,, manusia dengan suara pecah, yang aku tak pernah tertarik padanya meski dia rajin mengirim pulsa.

Dia,, yang setiap menelponku selalu bercerita tentang dirinya itu. Sungguh aku tak pernah terpikirkan untuk membahasnya, meski hanya sedetik, tak pernah terpikirkan. Hingga suatu hari,,,

Suatu hari dia bercerita panjang lebar tentang masalah keluarganya, tentang usianya yang hanya tinggal menunggu 8 bulan setelah fatwa vonis dari dokternya. Sesungguhnya aku tak begitu tertarik padanya, tetapi aku tertarik pada ceritanya, pada kejiwaannya, bagaimana dia menghadapi semua itu, hanya itulah yang membuatku tertarik.

Sejak itu dia jadi rajin menceritakan kisahnya padaku,meski jadi tak rajin mengirim pulsa lagi.

Namanya Ryan, aku memanggilnya ian.

Ian masih bisa menampakkan cerita konyolnya, masih bisa tertawa lebar, itu yang membuatku bingung atau malah kagum,, entahlah…..

Boleh bocorin sebuah rahasia???

SStttts,,, Aku tak yakin kalau aku pernah melihatnya, atau bertemu dengannya,, meski sepertinya aku sangat mengenalnya. Hingga akhirnya aku tau, ternyata aku pernah bertemu dengannya, dia sepupunya temanku dan pernah datang bertamu ke rumah.

Akhirnya untuk kedua kalinya kami bertemu, dia datang lagi ke rumah ketika aku “pulang kampung”.

Aku merasakan ada yang berbeda dari dia, tapi tak tau apa,, padahal dia sama sekali bukan tipeku, bahkan aku tak pernah terpikirkan punya perasaan seperti ini padanya. Sudahlah,,,

mengalir sajalah,,,

Tapi sejujurnya kalau boleh jujur, “mantanku” berfikir aku memutuskannya karena ian, entah pikiran picik macam apa itu? wong aku sama sekali tak punya perasaan apa-apa ke Ian waktu aku putus dengannya,.

************

Waktu membuktikan dan membenarkan fikiran mantanku, aku menjadi seseorang di sisi ian,

seseorang yang akan mendampinginya,,

meski hanya 8 bulan,,

Tapi keputusanku untuk menerima ian menjadi pacarku tak murni dari hatiku yang mencintainya, karena aku tak merasa mencintainya, getaran itu bukan cinta menurutku,, itu hanya emosi sesaat karena melihat betapa tegarnya dia menjalani hidupnya yang takkan lama itu. Dan aku memutuskan mengorbankan sedikit waktuku untuk menemani akhir waktunya. Tak apa aku tak mencintainya. Aku hanya ingin memberi apa yang bisa aku beri untuk manusia lain di sekelilingku.

Aku kembali ke Semarang, dan minggu depan dia akan berangkat lagi ke jakarta. Mungkin ” long distance” akan menjadi konsep pacaran kami,,he..he..

Aku merelakan diri pulang kerja sore langsung menuju kampung halaman cuma untuk melepas keberangkatan ian ke jakarta. Untuk membuktikan kepadanya kalau aku mencintainya bukan hanya kasihan padanya, meski aku membohonginya yang penting dia percaya. kasihan kalau dia down.

Dia berangkat bersama kedua temannya, dia mengantar kedua temannya dulu menemui orang yang akan memberi pekerjaan kepada mereka, lalu dia akan melaju ke pekerjaannya semula setelah kedua temannya mendapatkan pekerjaan mereka, itu rencana mereka yang aku tau.

Tiga hari setelah kepergian mereka, ian menelepon, katanya uangnya sudah mulai habis, karena ternyata temannya belum juga bertemu dengan orang yang merekomendasikan pekerjaan ke mereka. Mereka untuk sementara waktu tinggal di mushola. memprihatinkan…setauku.

**********

“Setauku,,,”

kata-kata itu mulai terucap setelah “yang sebenarnya” ku ketahui.

Ternyata ian yang ku kenal adalah seorang pembohong,klepto,maling, tukang porot, tukang tipu, psikopat, mungkin saja jika sekarang aku masih berhubungan dengannya aku bisa saja di bunuhnya jika dia merasa terpojok.

Tak ku kira,,,

Ternyata ketika dia menelponku waktu itu adalah salah satu trik pertama yang muncul untuk “morotin” aku,, DASSAAAR COWOK MATRE!!! Aku membatin,,

bahakn sejak pertama kenalpun ternyata tak ada satupun yang dia ceritakan itu benar.

Tentang keluarganya,

tentang usianya,

tentang vonis Dokter ( semoga saja kata-katanya adalah doanya, semoga usianya benar-benar hanya 8 bulan, do’aku).

Uang ku telah banyak kuhabiskan hanya untuk seorang ian.

Aku bahkan hampir saja cuti kuliah karena uang hasil kerjaku yang seharusnya ku gunakan untuk membayar biaya kuliah, ku berikan padanya. ( tentu saja tidak dengan rela)

Aku mau memberikan uang itu dengan catatan dia pergi dan menjauh dariku. Karena 2 hari setelah laporannya tinggal di musholla jakarta waktu itu, dia menguntitku di semarang.

Dia selalu ada dimana aku ada.

Tau untuk apa???

“untuk minta beberapa uangku dengan wajah memelasnya!!!” Aku muak hidup selalu di buntuti dia.

dengan bau mulutnya yang menjijikan.

bau badannya yang memuakkan.

Rambutnya yang berantakan semakin menampakkan betapa dia sangat urakan.

Muak!!!

Kulit yang membalut tubuhku semakin berkurang, yang ada tinggal tulang belulang. Fikiranku selalu kacau, emosiku semakin labil hidup di kuntit oleh psikopat.

Hidup selalu di porotin oleh tukang porot,

Hidup selalu di bayangi manusia edan, yang aku sendiri tak bisa melepaskan diri dari dia.

arghh!!!

Tapi kemudian aku lega setelah dia kuberi uang dengan catatan menghilang dari duniaku. Apalagi ketika esoknya aku pulang kampung, kuterima sms darinya bahwa dia sudah di jakarta. Betapa leganya aku.

“Terimakasih ya Alloh” sujud syukurku ku panjatkan pada yang kuasa setelah kepergian si psikopat itu.

Tapi tau apa yang terjadi setelah sujud syukurku???

ternyata tak selesai sampai disini kisah yang berawal dari kesalahnku percaya pada orang yang tak begitu ku kenal, “sangat tak ku kenal!!” tepatnya.

Hp ku berdering tak ku biarkan lama langsung ku pencet salah satu tombol disana.

Belum sempat aku menyapa, dia yang di ujung sana dengan terburu-buru mulai menginterogasiku. Suaranya berat dan berwibawa, yang aku pikirkan saat itu hanya wajah sesosok polisi, entah kenapa.

“Dengan mbak okta?”

“iya” aku menjawab singkat dengan kepala masih sesak dengan kebingunganku.

“sekarang Rian dimana?” pertanyaan itu mengagetkanku.

“Lhoh?” aku tergagap “bukannya kemaren ke jakarta?” Aku ingat kemarin ketika dia akan berangkat ke jakarta, dia samasekali tak mau ku antar.

“Dia tidak ke jakarta mbak”

“lantas?” dengan dungunya ku lontarkan pertanyaan yang membuat orang di seberang marah.

“Lantas??!!! kalau saya tau, saya tidak akan menelepon anda!!”

“tut..tut..tutt..” ku pandangi Hp ku dengan bingung, maksudnya apa?

Belum cukup kebingunganku, Hp ku kembali berdering, kali ini orang yang tadi memperkenalkan diri, namanya frenky. Ternyata ian membawa kabur motornya dan aku yang di pegang sebagai penyembunyi ian. Maksud???

Aku hanya bisa menangis.

Aku bingung, kenapa jadi begini?

malamnya ian telepon lagi dengan nomer yang berbeda,ku suruh dia mengembalikan motor frenky, tapi dia malah tertawa terkekeh, SiaLL!!!!

Hp ku tak pernah sepi dari telepon mereka yang menanyakan keberadaan ian, dari mulai polisi, teman-temannya, frenky,pacarnya frenky, bahkan Koko( orang yang mengantar ian meminta uang terakhirnya dariku, alias uang pengusiran).

Tubuhku benar-benar menyusut, garis mataku menghitam, mataku sembab akibat seringnya menangis oleh telepon yang aku anggap sebagai teror.

Aku mencari tau kesana kemari dimana ian, tentu saja amat sulit, karena pengetahuanku tentang dia sangat minim. Aku tak mengenal dia sama sekali!!.

Aku hanya memiliki nomernya arfan,temanku yang sepupunya ian yang ternyata juga sedang mencari-carinya karena buron.

Aku terus saja memencet-mencet hp ku, siapa tau ada keajaiban mungkin masih ada nomer manusia yang mengenal ian, yang masih tertinggal di memory hp ku.karena hp ku pun sering di pinjam sama dia.

Benar saja!! Bokapnya!!!

“AaaaaaaaaaaaRgh!! ya Alloh terimakasih” tanpa pikir panjang langsung saja ku hubungi ayahnya.

“Edaaaan!!” batinku berteriak.

Ternyata orang yang selama ini di ceritakan ian sebagai ayah tirinya yang membuat dia di benci semua orang hanyalah “bualan” belaka. Ternyata dia adalah orang baik hati sesama perantauan di jakarta yang rela merelakan rumahnya untuk menampung ian dan keluarganya.

Namanya om andi, dia bahkan mempekerjakan ian sebagai sopirnya, tapi ternyata mobilnya malah di salahgunakan oleh ian untuk foya-foya dengan teman-temannya. Aku semakin muak mendengar cerita ini.

Aku kembali mengorek memory hpku, masih ada nama pacarnya salah satu teman ian yang ke jakarta bareng waktu itu. kutanya nomer temannya. dan tau apa???

Setelah ku tanya pada temannya ternyata ian ke jakarta dengan membawa segepok uang (padahal aku tau dia sangat miskin, papa, dan menjijikan), tak mungkin ia bisa membawa begitu banyak uang tanpa menjual motornya. Aku mulai lunglai. Percuma kalau motor curiannya sudah di jual.

Si teman juga bilang ternyata dia juga menyimpan dendam terselubung pada ian, karena ian mencuri barang berharganya untuk di jual dan foya-foya.

***********

“ini dari kantor polisi”

“ouw?” aku menjawab datar saking muaknya berurusan dengan mereka.

“Sekarang mbak okta jawab dimana mbak okta sembunyikan ian?”

“Aku wes ngomong bola- bali si!! ra’ retii!! sak karepmu percoyo pora polisi gadungan!!!” aku mengamuk, aku mulai tak percaya dengan semuanya.

(Aku sudah bilang berkali-kali! aku tak tau!!!Terserah percaya atau tidak polisi gadungan!!”)

“Anda bisa saja saya jebloskan ke penjara!!!”

“Ra’ wedi!!”

(tidak takut!”)

“Anda bisa saja kami tuduh menyembunyikan buronan”

“Aku ra salah, aku ra wedi!!, sak karepmu!!”

(Aku tak salah, tak takut!!!, terserah!”)

lalu di belakang polisi itu ada suara lain, “besok langsung grebeg saja kostnya, kita kasih suratnya!! coba liat akan seperti apa muka orang yang mengaku tak bersalah itu!!!”

Aku mulai takut, merinding, tapi dalam keadaan takut aku akan semakin kalap biasanya.

“Silahkan saja!!”

“perempuan ini masih mendapat telepon dari saudara Rian setelah kepergiannya, dan itu bisa di jadikan ayat perkara” salah satu dari mereka angkat bicara.

Segera kututup telepon, tak kuat mendengar percakapan mereka.

Tak kuat menanggung tuduhan yang tak kulakukan.

Tak kuat membayangkan besok akan datang polisi ke kostku, mau di taruh dimana mukaku???!!

Kostku berdiri tegak tepat di depan Pak RW, oh MG!!!

Tak kuat membayangkan ibuku menangis karena anak perempuan tercantiknya di penjara.

di hakimi,

di adili, meski akhirnya tak adil karena mereka jauh lebih banyak uang yang bisa di suruh bicara.

Tak kuat membayangkan betapa malunya ibuku karena gagal mendidik anak perempuannya.

Tak kuat..

Aku berlari keluar kamar, keluar kost.. dan menangis terguguk di depan gerbang, menyesali nasibku.

Al dan Zeiya adek kost ku ikut berlari ke depan “ngademke” (menenangkan) pikiranku.

Tapi tangisku semakin menjadi begitu pikiranku tertuju pada ibu tersayangku, hingga Pak Rw pun keluar dari peraduannya. “kenapa mbak?”

“nggak papa kok pak” Al mencoba menjawab, sementara tangan Zeiya mulai menggandeng tanganku untuk di tarik ke dalam rumah, ” masuk wae yok mbak

Tangisku mulai mereda setelah 3 jam lamanya aku terkurung dalam bayangan ibuku yang akan sangat malu menanggung semuanya.

********

Sekarang sudah hampir setengah tahun aku tak lagi mendengar kabar tentang peristiwa itu. Dan aku terbebas dari segala perkara setelah negosiasi dengan mereka.

Mungkin sekarang Rian sedang mendekam di penjara.

Teganya dia meninggalkan masalah untukku dan kabur begitu saja tanpa rasa berdosa.

Ini akibat dari terlalu baik pada orang, atau akibat bertemu dengan manusia tak punya moral yang “membalas air susu dengan air tuba”?

4 responses »

  1. Itu namanya kamu lagi apes. tapi, se apes-apese menungso, asal tetep eling lan waspodo pasti akan ada hikmah yang bisa kau ambil (ck..ck..)
    Eh vee, bukan Ryan dari Njobang kan..?

  2. keliatannya si dari jombang,, wez,,wez,,
    podo psikopate,,,
    gila ya?? Tuhan baek bgt ngenalin vee ma psikopat, seenggaknya vee bkalan punya jurus lebih ampuh untuk mnghadapi yg bukan psikopat, wong ma psikopat wae selesai,, iya gag mbah gubrik???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s