Terkurung sial sehari

Standar

“gimana??!!! Al bertereak minta penjelasan

“gag tau, gimana ini?!!” Aku juga ikut bertereak panik,, iyah panik hanya itu gambaran kami.

Aku dan Al terkurung di dapur kost kami, mulanya itu ulahku mengambil kertas yang nyelip di lubang selot pintu. Aku jengkel, karena kertas itu, pintu tak bisa di tutup kecuali dengan kunci.

“grep!!!” kututup pintu, dan bisa!!,

“Al, akhirnya pintunya bisa ditutup!!!” Aku berteriak kegirangan, sementara Al yang masih di kamar mandi hanya berdehem.

Nhah setelah kegirangan itulah bencana ini terjadi, ku coba memutar engsel, gag bisa.

ku ulang lagi, dan gag bisa.

ku putar lagi, kali ini keringat dingin mulai mengucur di kening dan pipiku. Tetap tak bisa!!!.

“ALLLL!!!” Aku bertereak, sementara Al yang masih di kamar mandi “misuh-misuh” tak karuan,

“Opo to mbak???!! Ribut ae!!!” ( “Ada apa si mbak???!! Ribut aja!!”).

“yhaaahaaa!!! pintune gag iso mbukak!!”

Al langsung bergegas keluar dari kamar mandi dan menuju ke pintu, untuk membantuku membuka nya.

Di kost kami penghubung antara ruang belakang yang terdiri dari dapur dan kamar mandi dengan ruang tengah ya cuma pintu itu tok,,

Aku berlagak bak tukang engsel, mencopot satu persatu sekrup yang menempel disana, daaaaan…..

Tetap tak bisa di buka. Akhirnya kami putuskan untuk lewat tangga di belakang yang menuju ke loteng. “Kita melompat genteng aja, ke loteng tetangga sebelah” Aku memutuskan.

“Tapi bajuku gini” Al menuding bajunya, yang hanya menggunakan baju tidur, begitupun aku.

Tapi untunglah kami tidak memakai tank top, jadi setidaknya meski keluar kost tak seberapa malu jika di bandingkan memakai tank top. Tank top hanya kami gunakan di kamar jika merasa gerah…

Akhirnya kami melompati genteng tetangga sebelah, dan turun melalui tangga mereka, biarlah seperti maling, dari pada kami terkurung di dapur yang mulai gelap karena hari semakin sore, sementara kami belum sholat ashar.

“Assalamualaikum warrohmatullohi wabarokatuh..” kami menyapa penghuni rumah yang masih mencuci, dan terlihat kaget melihat kami telah berdiri di dalam rumah mereka.

“maav mbak, numpang lewat boleh?? kami terkunci” aku memulai pembicaraan.

Lalu kami lewat rumah itu menuju depan kost kami.

“haaah!!!” Al tereak.

“Percuma mbak, kan pintu depan kita kunci dari dalam!!” Ah kami benar- benar bingung. Sementara kami masih sedikit di jauhi sama anak-anak cowok yang kost di bawah gara2 masalahku dengan mbak kostkku. ” mantan mbak kos” tepatnya. Anak-anak kost bawah adalah teman-teman “mantan mbak kost ku”, dan sekarang kami tak tahu harus minta bantuan pada siapa. Mau ke rumah pak kamari?? si tukang itu?? tapi pakaian kami seperti ini, tak ada motor. ugh!!

Tapi untunglah temannya Al datang bawa motor, dan kami pun meminjamnya.

Tapi yang bikin aku kesal, Al susah sekali di ajak ke Pak kamari, lhah masa’ aku berjuang sendirian??

” Yowez, ra usah!!!” aku marah, biar saja kita tetap diluar dan tak bisa masuk, biar saja kita berdosa karena tak sholat, biar saja!!! aku membatin..

Akhirnya Al mau, tapi aku yang harus menyetir,, entah lah sebenarnya yang lebih tua itu siapa? kenapa dia sering sekali memerintahku seolah-olah bos??

Dari pada kami benar benar tak sholat, akhirnya aku iya-in aja. Aku yang menyetir,, Aku mau menyalakan mesin motornya tapai Al mencegah..

“GAg usah mbak, paling turun wae kok” Aku mengekor saja, kami menurunkan motor tanpa menyalakan mesin.

Belum jauh motor melaju, aku sudah di kejar bapak-bapak gemuk yang membawa perut bahenolnya dengan tangan mengacunng-acung ke arahku, aku mengerem motorku, tapi lagi lagi Al mencegah.

“ko mandeg to mbak??!”

Ku lajukan lagi motornya, tapi bapak-bapak itu semakin emosi. Akhirnya kuputuskan untuk berhenti meski Al marah-marah tak karuan karena aku tak menuruti perintahnya, aku tak peduli meski tangan Al terus menabok-nabok pundakku menyuruhku segera kembali melaju. Aku berhenti, dan Bapak-bapak itu berhasil mengejar kami lalu marah-marah tak karuan gara-gara aku tak menyalakan mesin motor yang ku tumpangi. Apa masalahnya?? Aku membatin.

Apa ruginya di dia??

Tapi aku tetap saja merinding melihat mata bulatnya yan mau keluar dan tangannya menunjuk-nunjuk aku seolah-olah aku terpidana yang harus di hukum mati. Aku malu dengan tetangga-tetangga yang lain, sementara aku hanya anak kost.

Mau di taroh di mana mukaku jika aku harus “riwa-riwi” melewati jalan kampung ini??!!

Tak tau apa kalau aku juga sedang terburu-buru mengejar waktu sholatku? Ha???.. Tapi air mata cengengku tak mau di ajak kompromi, inilah aku.

Aku tak tahan tempaan, apalagi kalau dalam keadaan begini (terkuci di dalam kost dalam keadaan emosi labil ) di marah-marahi orang pula,,

Ak tuh cape’!!

Tadi di kerjaan bikin BT, di rumah kekunci bersama orng yang kebatulan saat itu mengeluarkan jurus nge BT-in nya, keluar pun ketemu dengan orang yang nge-BT-in, tapi yang paling bikin aku BT adalah yang menggebrak pintu setiap hari sampai jadi rusak seperti itu,,”mantan mbak kostku” yang akhirnya di usir oleh bapak kost…

Dan sampai sekarang dia memusuhiku,, biarlah

Hanya Tuhan yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.

ARRRRGH!!!

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s