Matre menurutku

Standar

“Bekerjalah kamu untuk duniamu seolah-olah kamu akan hidup selamanya, dan bekerjalah untuk akhiratmu seolah-olah kamu akan mati besok”

Tentu saja kalimat itu tak asing di telinga.

Begitupun di telingaku,tak asing bahkan itu menjadi prinsip hidupku.

Tak apa aku di katakan matre, tak apa orang bilang begitu, itu mulut mereka dan akupun merasa aku matre.

tentu setiap manusia di karuniai sifat demikian. “matre”.

Aku tak peduli, bukan karena tak punya telinga, tak peduli bukan karna tak punya hati. Tapi aku benar-benar tak peduli!!.

Karena itu memang sifat manusia, wajar kok. DAN PERLU!!

Tinggal bagaimana kita menyikapi “si matre itu.”

Matre adalah sifat yang terpusat pada materi, tentu manusia takkan hidup tanpa materi, tak makan selama 1 bulan karena tak punya uang tentu takkan membuat manusia tetap bertahan bukan?? sudah “TEWAS” pastinya.

Tapi sayang cap “matre” sudah menempel di benak manusia secara negatif. Matre sering di gambarkan dengan perempuan yang suka morotin harta cowoknya, harta orang lain, harta om-om hidung belang. Padahal perempuan yang mengejar karirnya pun bisa di sebut matre. Dan itu matre yang di paparkan dengan tindakan positif.

Sejak kecil aku tinggal bersama Ayah dan Ibuku ( tentu saja..) , dan betapa beruntunganya aku hidup di lingkungan yang berpendidikan, bukan hanya pendidikan sekolah tapi pendidikan moril dan spiritual juga. Ayahku dulu tiap ba’dha maghrib selalu degan rela mengajar ngaji para embah- embah yang sudah sepuh, adek-adek yang masih kecil,, betapa susah mengajari mereka, aku pun ikut imbasnya. Aku ikut mengajari mereka ngaji di usia 9 th.

Dan karena basic ku memang dari keluarga dengan agama yang kuat, aku pun selalu di tekankan untuk berbuat seswatu yang menghasilkan buah di akhirat kelak. Dan basic ini pula yang menuntunku menghasilkan dunia dan akhirat sekaligus dengan menjadi salah satu pengajar di TPQ. Tentu saja materi yang aku terima belum seberapa waktu itu. Tapi setidaknya di usia 14 tahun ketika aku masih duduk di bangku SMP aku sudah menghasilkan uang. Tapi ini tak terlalu membuatku bangga jika aku hanya berfikir materi, karena sejak SD kelas 5 pun aku sudah bisa menghasilkan uang yang lebih besar dari mengajar TPQ dengan berdagang. Modalnya hanya dari uang saku yang kusisihkan, dan aku mulai berdagang jajanan kecil ataupun mainan yang aku jual kepada teman-teman sebayaku.

Bagiku,,”uang memang bukan yang terpenting dalam hidup, tetapi hidup juga tak kan berjalan tanpa uang”.

silakan kamu ambil hikmah dari ceritaku yang sejak SD hingga sekarang 20 tahun tak pernah berhenti berjuang, untuk dunia dan akhiratku..

Dan doakan agar aku tetap bertahan dengan prinsipku.

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s